“Menyegarkan Kembali Sikap Keislaman
Dalam Kehidupan Kita”
Dalam Kehidupan Kita”
Oleh : Sumadi
Perkembangan akhir-akhir ini umat Islam Indonesia sedang mengalami berbagai ujian. Baik ekonomi, politik, maupun tantangan budaya yang pengaruhnya semakin mengancam para anak-anak dan generasi muda kita. Sudah tidak ada lagi saringan yang dapat mengahalagi berbagai acara dan informasi baik di media cetak maupun di media elektronik. Televisi kita menagajarkan hal-hal yang negatifnya lebih besar daripada manfaatnya. Sehingga berbagai bentuk tindakan yang tidak beretika dan tidak berakhlaq menjadi tontonan yang biasa, sehingga semakin memperparah kemerosatan akhlaq masyarakat. Hal ini tentu sangat memprihatinkan kita.
Perkembangan akhir-akhir ini umat Islam Indonesia sedang mengalami berbagai ujian. Baik ekonomi, politik, maupun tantangan budaya yang pengaruhnya semakin mengancam para anak-anak dan generasi muda kita. Sudah tidak ada lagi saringan yang dapat mengahalagi berbagai acara dan informasi baik di media cetak maupun di media elektronik. Televisi kita menagajarkan hal-hal yang negatifnya lebih besar daripada manfaatnya. Sehingga berbagai bentuk tindakan yang tidak beretika dan tidak berakhlaq menjadi tontonan yang biasa, sehingga semakin memperparah kemerosatan akhlaq masyarakat. Hal ini tentu sangat memprihatinkan kita.
Lalu apa yang dapat kita lakukan untuk membendung berbagai pengaruh yang merusak kehidupan kita. Sehingga akhlaq yang mulia menjadi hiasan kita. Maka hal yang dapat kita lakukan adalah dengan menumbuhsuburkan kembali pemahaman kita tentang Islam dan mengamalkannya dengan memulai dari rumah. Rumah adalah sekolah dan pendidikan yang utama untuk menerapkan nilai-nilai agama dan pembentukan akhlaq mulia. Setidaknya ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam proses penyegaran kembali tentang keislaman kita., di antaranya adalah :
(1) iman, yaitu sikap batin yang penuh kepercayaan kepada Allah. Jadi tidak cukup hanya percaya tentang adanya Allah, melainkan harus menjadi sikap mempercayai kepada adanya Allah dan menaruh kepercayaan kepadanya.
(2) Islam, yaitu sebagai sikap kelanjutan dari iman, maka sikap pasrah kepada Allah, dengan meyakini apapun yang datang dari dari Allah tentu mengandung hikmah kebaikan. Maka sikap inilah yang disebut dengan Islam.
(3) Ihsan, yaitu sikap kesadaran penuh bahwa Allah selalu hadir atau berada bersama kita di mana pun kita berada. Bertalian dengan ini, dan karena menginsafi bahwa Allah senatiasa mengawasi kita, maka kita harus berbuat, berlaku ndan bertindak menjalankan sesuatu sebaik mungkin dan penuh rasa tanggung jawab, tidak setengah-setengah dan tidak dengan sekadarnya saja.
(4) Ikhlash, yaitu sikap murni dalam tingkah laku dan perbuatan, semata-mata hanya untuk memperoleh perkenan atau ridla Allah, dan bebas dari pamrih lahir dan batin, tertutup maupun terbuka, dengan sikap ikhlash orang akan mampu mencapai tingkat tertinggi rasa batinnya dan karya lahirnya, baik pribadi maupun sosial.
(5) Taqwa, yaitu sikap sadar penuh bahwa Allah selalu mengawasi kita, kemudian kita berbuat hanya untuk mencapai ridlanya, dengan menjaga atau menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak diridlai Allah. Taqwa inilah yang mendasari budi pekerti luhur atau akhlakul karimah.
(6) Tawakal, yaitu sikap senantiasa bersandar kepada Allah, dengan penuh harapan kepadanya, dengan penuh harapan kepada-Nya dan keyakinan bahwa Allah akan menolong kita dalam mencari dan menemukan jalan terbaik. Karena kita mempercayai atau menaruh kepercayaan kepada Allah, maka tawakal adalah suatu kemestian.
(7) Syukur: yaitu sikap penuh rasa terima kasih dan penghargaan, dalam hal ini segala nikmat dan karunia yang tidak terbilang banyaknya, yang dianugrahkan Allah kepada kita. Sikap syukur sebenarnya sikap optimis kepada hidup ini dan pandangan pengaharapan kepada Allah. Karena itu sikap bersyukur kepada Allah adalah sesungguhnya sikap bersyukur kepada diri sendiri, karena manfaat syukur akan kembali kepada yang bersangkutan.
(8) Shabar, yaitu sikap tabah mengahadapi segala kepahitan hidup, besar dan kecil, lahir dan batin, fisiologis maupun psikologis, karena keyakinan yang tak tergoyahkan bahwa kita semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Jadi sikap sabar adalah sikap batin yang tumbuh karena kesadaran akan asal dan tujuan hidup, yaitu Allah SWT.
Inilah nilai-nilai mendasar yang setidaknya dapat kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari untuk menjadi fundamen pembentukan kualitas pribadi yang kuat, “penyegaran sikap keislaman kita”. Pembentukan keislaman yang dimulai dengan pembentukan pribadi-pribadi yang kuat, keluarga yang kuat iman dan amalnya, masyarakat yang berakhlaq. Sehingga muncul bangsa yang baldah thayyibah (bangsa yang penuh dengan limpahan rahmat dan karunia Allah) dan negeri (rabbun ghafur) yaitu negeri yang penuh dengan ampunan Allah.
(1) iman, yaitu sikap batin yang penuh kepercayaan kepada Allah. Jadi tidak cukup hanya percaya tentang adanya Allah, melainkan harus menjadi sikap mempercayai kepada adanya Allah dan menaruh kepercayaan kepadanya.
(2) Islam, yaitu sebagai sikap kelanjutan dari iman, maka sikap pasrah kepada Allah, dengan meyakini apapun yang datang dari dari Allah tentu mengandung hikmah kebaikan. Maka sikap inilah yang disebut dengan Islam.
(3) Ihsan, yaitu sikap kesadaran penuh bahwa Allah selalu hadir atau berada bersama kita di mana pun kita berada. Bertalian dengan ini, dan karena menginsafi bahwa Allah senatiasa mengawasi kita, maka kita harus berbuat, berlaku ndan bertindak menjalankan sesuatu sebaik mungkin dan penuh rasa tanggung jawab, tidak setengah-setengah dan tidak dengan sekadarnya saja.
(4) Ikhlash, yaitu sikap murni dalam tingkah laku dan perbuatan, semata-mata hanya untuk memperoleh perkenan atau ridla Allah, dan bebas dari pamrih lahir dan batin, tertutup maupun terbuka, dengan sikap ikhlash orang akan mampu mencapai tingkat tertinggi rasa batinnya dan karya lahirnya, baik pribadi maupun sosial.
(5) Taqwa, yaitu sikap sadar penuh bahwa Allah selalu mengawasi kita, kemudian kita berbuat hanya untuk mencapai ridlanya, dengan menjaga atau menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak diridlai Allah. Taqwa inilah yang mendasari budi pekerti luhur atau akhlakul karimah.
(6) Tawakal, yaitu sikap senantiasa bersandar kepada Allah, dengan penuh harapan kepadanya, dengan penuh harapan kepada-Nya dan keyakinan bahwa Allah akan menolong kita dalam mencari dan menemukan jalan terbaik. Karena kita mempercayai atau menaruh kepercayaan kepada Allah, maka tawakal adalah suatu kemestian.
(7) Syukur: yaitu sikap penuh rasa terima kasih dan penghargaan, dalam hal ini segala nikmat dan karunia yang tidak terbilang banyaknya, yang dianugrahkan Allah kepada kita. Sikap syukur sebenarnya sikap optimis kepada hidup ini dan pandangan pengaharapan kepada Allah. Karena itu sikap bersyukur kepada Allah adalah sesungguhnya sikap bersyukur kepada diri sendiri, karena manfaat syukur akan kembali kepada yang bersangkutan.
(8) Shabar, yaitu sikap tabah mengahadapi segala kepahitan hidup, besar dan kecil, lahir dan batin, fisiologis maupun psikologis, karena keyakinan yang tak tergoyahkan bahwa kita semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Jadi sikap sabar adalah sikap batin yang tumbuh karena kesadaran akan asal dan tujuan hidup, yaitu Allah SWT.
Inilah nilai-nilai mendasar yang setidaknya dapat kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari untuk menjadi fundamen pembentukan kualitas pribadi yang kuat, “penyegaran sikap keislaman kita”. Pembentukan keislaman yang dimulai dengan pembentukan pribadi-pribadi yang kuat, keluarga yang kuat iman dan amalnya, masyarakat yang berakhlaq. Sehingga muncul bangsa yang baldah thayyibah (bangsa yang penuh dengan limpahan rahmat dan karunia Allah) dan negeri (rabbun ghafur) yaitu negeri yang penuh dengan ampunan Allah.
Pasirjati F3/19 Bandung, 4 Januari 2003
Sumadi
Sumadi

No comments:
Post a Comment