Khutbah Idul Fitri 1425 H/2004
"Idul Fitri Menjadikan Kita Kembali Kepada Kesucian"
"Idul Fitri Menjadikan Kita Kembali Kepada Kesucian"
Oleh : Sumadi
Saudara-saudara Kaum Muslimin yang berbahagia…
Setelah sebulan kita melaksanakan ibadah puasa maka sejak fajar pagi tadi kita telah berpisah dengan Ramadhan. Kita belum tahu apakan kita masih akan bertemu dengan ramadhan tahun mendatang. Yang pasti hari ini berada di hari idul fitri yakni hari yang suci dan penuh barakah serta ampunan. Dikatakan suci karena hari ini kita telah berada dalam suasana ampunan Allah dari noda dan dosa. Walaupun semua itu sangat tergantung pada tingkat keikhlasan amal perbuatan kita kepada Allah selama Ramadhan. Sebulan lamanya kaum muslimin menahan lapar dan dahaga. Bukan sebab ketiadaan makanan dan minuman melainkan karena memenuhi perintah Allah SWT. Melalui ibadah puasa kaum muslimin menjalani latihan mental agar mampu menguasai dan mengenal diri serta menahan dan mengendalikannya dari tipu daya syaithaniyyah.
Kita melatih diri untuk mampu meninggalkan semua hal yang dapat merusak tata pergaulan masyarakat harmoni. Juga sebagai kesempatan meningkatkan taqwa dan tafakur kepada dzat yang Maha Besar tegasnya dalam bulan puasa itulah peluang yang sangat istimewa bagi kaum muslimin untuk berusaha meningkatkan dirinya sebagai insan muttaqin. Justru amat merugilah mereka yang tidak berkesempatan menjalankan ibadah puasa., meskipun secara fisik bisa melakukannya.
Sauadra-saudara kaum muslimin yang berbahagia…
Islam adalah agama yang sangat memperhatikan moral nurani yakni akhlaqul karimah. Islam juga sangat menekankan adanya rasa kesadaran bagi para pengikiutnya, karena dengan kesadaran itulah seorang muslim tidak akan merasa terpaksa dan tertekan dalam melaksanakan perintah Allah. Keterpaksaan melaksanakan sesuatu lazimnya tidak akan memberi bekas yang mendalam bagi seseorang, seakan-akan gumpalan asap yang sirna diserap langit yang amat luas. Dengan demikian nyatalah bahwa diri pada orang-orang yang bertaqwa tersimpan sikap moral yang tinggi serta kesadaran yang mendalam. Dalam hubungan dengan ibadah puasa orang yang berpuasa menunjukan sikap dan kesadaran yang menembus pintu hati, sehingga ia berkenyakinan bahwa dirinya tidak terlepas dari pandangan Allah. Ia yakin bahwa Allah hadir dalam setiap gerak gerik dan detak nafasnya. Keyakinan ini akan terus bertambah kuat, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 186 :
Artinya : “Dan apabila hamba-hambaku bertanya kepadamu tentang aku maka jawablah bahwasannya aku dekat, aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa kepadaKu. Maka hendaklah mereka memenuhi perintahKu dan hendaklah mereka beriman kepadaKu agar mereka mendapat petunjuk.”
Saudara-saudara Kaum Muslimin yang berbahagia…
Setelah sebulan kita melaksanakan ibadah puasa maka sejak fajar pagi tadi kita telah berpisah dengan Ramadhan. Kita belum tahu apakan kita masih akan bertemu dengan ramadhan tahun mendatang. Yang pasti hari ini berada di hari idul fitri yakni hari yang suci dan penuh barakah serta ampunan. Dikatakan suci karena hari ini kita telah berada dalam suasana ampunan Allah dari noda dan dosa. Walaupun semua itu sangat tergantung pada tingkat keikhlasan amal perbuatan kita kepada Allah selama Ramadhan. Sebulan lamanya kaum muslimin menahan lapar dan dahaga. Bukan sebab ketiadaan makanan dan minuman melainkan karena memenuhi perintah Allah SWT. Melalui ibadah puasa kaum muslimin menjalani latihan mental agar mampu menguasai dan mengenal diri serta menahan dan mengendalikannya dari tipu daya syaithaniyyah.
Kita melatih diri untuk mampu meninggalkan semua hal yang dapat merusak tata pergaulan masyarakat harmoni. Juga sebagai kesempatan meningkatkan taqwa dan tafakur kepada dzat yang Maha Besar tegasnya dalam bulan puasa itulah peluang yang sangat istimewa bagi kaum muslimin untuk berusaha meningkatkan dirinya sebagai insan muttaqin. Justru amat merugilah mereka yang tidak berkesempatan menjalankan ibadah puasa., meskipun secara fisik bisa melakukannya.
Sauadra-saudara kaum muslimin yang berbahagia…
Islam adalah agama yang sangat memperhatikan moral nurani yakni akhlaqul karimah. Islam juga sangat menekankan adanya rasa kesadaran bagi para pengikiutnya, karena dengan kesadaran itulah seorang muslim tidak akan merasa terpaksa dan tertekan dalam melaksanakan perintah Allah. Keterpaksaan melaksanakan sesuatu lazimnya tidak akan memberi bekas yang mendalam bagi seseorang, seakan-akan gumpalan asap yang sirna diserap langit yang amat luas. Dengan demikian nyatalah bahwa diri pada orang-orang yang bertaqwa tersimpan sikap moral yang tinggi serta kesadaran yang mendalam. Dalam hubungan dengan ibadah puasa orang yang berpuasa menunjukan sikap dan kesadaran yang menembus pintu hati, sehingga ia berkenyakinan bahwa dirinya tidak terlepas dari pandangan Allah. Ia yakin bahwa Allah hadir dalam setiap gerak gerik dan detak nafasnya. Keyakinan ini akan terus bertambah kuat, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 186 :
Artinya : “Dan apabila hamba-hambaku bertanya kepadamu tentang aku maka jawablah bahwasannya aku dekat, aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa kepadaKu. Maka hendaklah mereka memenuhi perintahKu dan hendaklah mereka beriman kepadaKu agar mereka mendapat petunjuk.”
Pengertian ayat tersebut di atas meyetakan bahwa Allah tidak melepaskan pandanganNya terhadap hamba-hambaNya. Ia mengabulkan permintaan hamba-hambaNYa dan mengetahui semua apa yang diperbuat para hamaba-Nya. Para pakar tafsir mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan “ibadii” (hamba-hambaKu) dalam ayat ini dalah hamba-hambaNya yang senantiasa mengakui kesalahan, kekhilafan dan kealfaan yang pernah dilakukannya, baik terhadap Allah sebagai pencipta maupun kepada sesama manusia.
Kesadaran akan kehadiran Allah inilah yang merupakan sumber kekuatan dan ketahanan mental manusia beragama dari segala tipu daya dan bujuk rayu syetan.
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah,
Sebulan penuh kita telah lewati shaum Ramadhan, apa yang berubah pada diri kita setelah mengalami pendidikan pribadi yang mengagumkan itu?Khatib mengajak hadirin untuk mencoba mengukur dirinya masing-masing, apakah shaum kita mabrur, ataukah mardud? Sudahkah kita mencapai tahapan taqwa yang dilukiskan dalam surat Al-Imran ayat 134-1356?
Marilah kita sama-sama kaji isinya, agar kita dapat membuat tolak ukur yang dapat kita gunakan. Ayat itu menyatakan bahwa manusia taqwa adalah :
Artinya :
Orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun kesempitan, dan mampu menahan amarahnya, serta mau memaafkan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan apabila mereka mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya dirinya sendiri, bergegas dzikir kepada Allah, dan memohon ampunan akan dosanya. Siapa lagi yang dapat mengampuni selain Allah? ***
Kesadaran akan kehadiran Allah inilah yang merupakan sumber kekuatan dan ketahanan mental manusia beragama dari segala tipu daya dan bujuk rayu syetan.
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah,
Sebulan penuh kita telah lewati shaum Ramadhan, apa yang berubah pada diri kita setelah mengalami pendidikan pribadi yang mengagumkan itu?Khatib mengajak hadirin untuk mencoba mengukur dirinya masing-masing, apakah shaum kita mabrur, ataukah mardud? Sudahkah kita mencapai tahapan taqwa yang dilukiskan dalam surat Al-Imran ayat 134-1356?
Marilah kita sama-sama kaji isinya, agar kita dapat membuat tolak ukur yang dapat kita gunakan. Ayat itu menyatakan bahwa manusia taqwa adalah :
Artinya :
Orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun kesempitan, dan mampu menahan amarahnya, serta mau memaafkan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan apabila mereka mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya dirinya sendiri, bergegas dzikir kepada Allah, dan memohon ampunan akan dosanya. Siapa lagi yang dapat mengampuni selain Allah? ***

No comments:
Post a Comment